Kunjungi Channel YouTube kami di "Guru Itung" Channel

Halaman

Sunday, June 6, 2021

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 6: Paradigma Perubahan Inkuiri Apresiatif

Oleh: Jamaluddin Tahuddin 

Pada pekan ke-6, materi kegiatan sudah memasuki modul 1.3 yakni visi guru Penggerak. Seperti modul-modul sebelumnya, modul ini juga diawali dengan kegiatan mulai dari diri. Kegiatan ini bertujuan agar CGP mampu merumuskan visi pribadi mengenai murid dan bagaimana sekolah yang berpihak pada murid di masa depan. Sesuai petunjuk pada modul, saya mencoba membayangkan tanggung jawab saya sebagai seorang guru, terlebih lagi peran sebagai guru Penggerak nantinya. Sebagai panduan, telah disiapkan beberapa pertanyaan pada modul yang ditujukan pada diri sendiri terkait visi sebagai guru Penggerak ke depan. Pertanyaan tersebut mengenai apa arti penting visi bagi saya sebagai seorang guru dan visi seperti apa yang saya miliki sebagai guru.

Selanjutnya saya membuat gambar yang bertemakan “Imajiku tentang Muridku di Masa Depan”. Gambar mengenai murid seperti apa yang saya dambakan. Selain digambarkan, impian itu juga disusun dalam bentuk kata-kata yang jelas sebagai sebuah visi. Sebagai panduan dalam menyusun kata-kata sebagai visi, diberikan kalimat rumpang yang harus dilengkapi sehingga tersusun menjadi sebuah paragraf utuh yang dapat menggambarkan visi tentang sekolah yang diimpikan. Sebuah sekolah yang mewujudkan keberpihakan pada murid.

Saya memimpikan murid-murid yang memiliki karakter sesuai profil pelajar Pancasila. Sekolah saya percaya bahwa murid adalah prioritas utama dalam Pendidikan. Sehingga sekolah saya mengutamakan kepentingan murid dalam setiap pengambilan kebijakan. Murid di sekolah saya sadar betul bahwa pendidikan itu penting untuk masa depannya. Sementara itu, guru di sekolah saya juga yakin untuk melaksanakan pembelajaran yang berpihak pada murid karena guru di sekolah saya paham bahwa pembelajaran di sekolah harus berpihak pada murid.

Dari paragraph di atas, saya mencoba merumuskan visi dalam bentuk kata-kata yang jelas. Visi ini terdiri dari 1 kalimat pendek, “Wujudkan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila melalui guru dan sekolah yang berpihak pada murid”. Selanjutnya, foto hasil karya (gambar) yang telah dituliskan rumusan visi dalam format JPG diunggah melalui LMS.

Kegiatan selanjutnya adalah modul 1.3.a.4 yakni eksplorasi konsep terkait visi guru Penggerak. Kegiatan ini mendapat alokasi waktu selama 3,5 JP dengan modul sebanyak 9 halaman. Kegiatan di modul ini bertujuan agar CGP memahami pentingnya melakukan manajemen perubahan dengan pola pikir positif melalui pendekatan inkuiri apresiatif dan mampu menghubungkan visinya dengan pendekatan inkuiri apresiatif dalam membantu pertumbuhan murid di masa depan.

Adapun rangkaian kegiatan pada modul 1.3.a.4 diawali dengan pengantar. Pada halaman pengantar, kita diberikan penjelasan terkait kegiatan yang akan dilakukan selama 3,5 JP ke depan melalui modul 1.3.a.4. Selanjutnya mengeksplorasi konsep mengelola Perubahan yang positif yang terdiri dari 6 halaman. Setelah mengeksplorasi konsep bagaimana mengelola perubahan yang positif, saya memahami bahwa dalam memainkan peran sebagai pendidik dan guru penggerak, seorang guru penggerak tentunya memiliki impian atau harapan yang ingin digapai di masa yang akan datang. impian atau harapan itu hendaknya diejawantahkan dalam sebuah visi yang menjadi panduan bagi seorang guru untuk mencapai tujuan. Visi tersebut menjadi panduan bagi guru dalam menentukan strategi pembelajaran. Selain itu, seorang guru juga bisa lebih memahami pentingnya sebuah visi dan visi seperti apa yang dimilikinya. Visi seorang guru hendaknya berpihak pada murid karena sasaran pekerjaannya adalah murid. Keberhasilan seorang guru baru dapat terlihat setelah sang murid tumbuh menjadi orang dewasa dan hidup di tengah masyarakat.

Visi juga membuat diri termotivasi untuk meningkatkan kualitas pembelajaran serta menguatkan kolaborasi di lingkungan sekolah sehingga terjadi upaya perbaikan dan perubahan yang berkesinambungan terutama perubahan budaya sekolah. Perlu pelibatan semua warga sekolah karena budaya sekolah terkait dengan sikap, perbuatan, dan segala bentuk kegiatan yang dilakukan warga sekolah. Untuk dapat mewujudkan visi sekolah dan melakukan proses perubahan, maka perlu sebuah pendekatan atau paradigma. Pendekatan ini dipakai sebagai alat untuk mencapai tujuan. Jika diibaratkan seperti seorang pelari yang memiliki tujuan mencapai garis “finish”, maka ia butuh peralatan yang mendukung selama berlatih seperti alat olahraga. Salah satu pendekatan atau paradigma yang bisa digunakan adalah pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA). IA dikenal sebagai pendekatan manajemen perubahan yang kolaboratif dan berbasis kekuatan. Konsep IA ini pertama kali dikembangkan oleh David Cooperrider (Noble & McGrath, 2016).

Cooperrider menyatakan bahwa pendekatan IA dapat membantu membebaskan potensi inovatif dan kreativitas, serta menyatukan orang dengan cara yang tidak dapat dilakukan oleh proses manajemen perubahan yang biasa. Manajemen perubahan yang biasa dilakukan lebih menitikberatkan pada masalah apa yang terjadi dan apa yang salah dari proses tersebut untuk diperbaiki. Hal ini berbeda dengan IA yang berusaha fokus pada kekuatan yang dimiliki setiap anggota dan menyatukannya untuk menghasilkan kekuatan tertinggi.

IA menggunakan prinsip-prinsip utama psikologi positif dan pendidikan positif. Pendekatan IA percaya bahwa setiap orang memiliki inti positif yang dapat memberikan kontribusi pada keberhasilan. Inti positif ini merupakan potensi dan aset organisasi. Dengan demikian, dalam implementasinya, IA dimulai dengan menggali hal-hal positif, keberhasilan yang telah dicapai dan kekuatan yang dimiliki organisasi, sebelum organisasi menapak pada tahap selanjutnya dalam melakukan perencanaan perubahan.

Menurut Cooperrider, saat ini kita hidup pada zaman yang membutuhkan mata yang dapat melihat dan mengungkap hal yang benar dan baik. Mata yang mampu membukakan kemungkinan perbaikan dan memberikan penghargaan. Bila organisasi lebih banyak membangun sisi positif yang dimilikinya, maka kekuatan sumber daya manusia dalam organisasi tersebut dipastikan akan meningkat dan kemudian organisasi akan berkembang secara berkelanjutan.

Di sekolah, pendekatan IA dapat dimulai dengan mengidentifikasi hal baik apa yang telah ada di sekolah, mencari cara bagaimana hal tersebut dapat dipertahankan, dan memunculkan strategi untuk mewujudkan perubahan ke arah lebih baik. Nantinya, kelemahan, kekurangan, dan ketiadaan menjadi tidak relevan. Berpijak dari hal positif yang telah ada, sekolah kemudian menyelaraskan kekuatan tersebut dengan visi sekolah dan visi setiap warga sekolah.

Salah satu manajemen perubahan yang menerapkan pendekatan IA adalah BAGJA. BAGJA merupakan singkatan dari Buat Pertanyaan, Ambil Pelajaran, Gali Mimpi, Jabarkan Rencana, Atur Eksekusi. Ini merupakan implementasi dari Define, Discover, Dream, Design, Deliver pada pendekatan IA.

Kegiatan selanjutnya adalah melakukan refleksi terhadap pengalaman pribadi terkait sesuatu yang pernah diimpikan dan berusaha mewujudkannya dengan segala kekuatan dan potensi yang dimiliki. Pengalaman pribadi yang masih teringat sampai sekarang adalah saat saya duduk di kelas 3 SMP. Kala itu ada kekuatiran tidak lulus Ujian Nasional dengan pemakaian Lembar Jawaban Komputer (LJK). Sehingga saya membulatkan tekad untuk giat belajar sambil berdoa agar bisa lulus UN. Kemanapun aku pergi, buku persiapan UN selalu ada bersamaku dan menjadi bahan bacaan di setiap ada kesempatan. Hingga akhirnya saya berhasil, tidak hanya lulus UN tapi juga berhasil meraih posisi kedua peraih nilai NEM tertinggi di sekolah. Kekuatan yang saya miliki saat itu adalah keinginan yang kuat dan tekad yang bulat. Sementara strategi yang saya gunakan adalah dengan membawa serta buku kemanapun aku pergi untuk dipelajari di setiap ada kesempatan.

Setelah itu, pada modul 1.3.a.4.1 masih terkait eksplorasi konsep. Tapi kali ini kita diminta berbagi visi murid impian dengan mengunggah visi hasil kegiatan mulai dari diri pada forum diskusi. Setiap CGP dipersilahkan memberikan saran dan masukan terhadap visi CGP yang lain.

Adapun visi terkait murid impian saya adalah seperti pada gambar berikut:

Setelah mendiskusikan visi pada forum diskusi, selanjutnya menyimak bacaan Inkuiri Apresiatif dan video mengenai BAGJA kemudian membuat kesimpulan dari bacaan dan video tersebut. Kesimpulan tersebut harus memuat informasi utama yang terkandung dalam bacaan dan video yang disajikan sekaligus menginventarisir informasi yang dapat membantu dalam peran sebagai guru Penggerak nantinya. Hasilnya kemudian dibagikan melalui forum diskusi kepada rekan CGP yang lain. Forum ini dimaksudkan agar peserta mendapatkan kesempatan untuk mendiskusikan gagasan, pemikiran dan pertanyaan-pertanyaan bersama Fasilitator.

Adapun kesimpulan yang bisa saya ambil setelah menyimak bacaan Inkuiri Apresiatif dan video mengenai BAGJA adalah dalam melakukan perubahan hendaknya kita mengubah paradigma dari memetakan kesalahan menjadi memetakan kekuatan melalui manajemen Inkuiri Apresiatif (Define, Discover, Dream, Design, Deliver) yang diadopsi ke dalam manajemen BAGJA. BAGJA dalam bahasa Sunda berarti bahagia, tapi lebih dari itu BAGJA merupakan singkatan dari Buat pertanyaan, Ambil pelajaran, Gali mimpi, Jabarkan rencana, Atur eksekusi.

Jadi, sebagai guru penggerak nantinya dalam melakukan perubahan positif hendaknya memetakan terlebih dahulu kekuatan atau potensi positif yang bisa mendukung terwujudnya visi guru penggerak kemudian membuat rencana pengembangan dan implementasinya.

Selanjutnya pada modul 1.3.a.5. Ruang Kolaborasi – Visi Guru Penggerak, setiap CGP mengidentifikasi kekuatan dari dalam diri dan luar diri yang dapat mendukung terwujudnya visi pribadi untuk menumbuhkan murid di masa depan. Pada kegiatan ini, CGP membuat pemetaan kekuatan untuk mengetahui siapa yang dapat ikut berperan mendukung terwujudnya visi yang sudah dibuat, dan bentuk dukungan seperti apa yang bisa dimanfaatkan. Adapun hasil pemetaan tersebut adalah seperti pada gambar berikut:

 



Hasil pemetaan dari setiap CGP, kemudian didiskusikan secara langsung pada pembelajaran sinkronus dalam kelompok kolaborasi. Setiap kelompok secara bersama-sama membuat pemetaan kekuatan. Pemetaan ini dibuat dalam bentuk kategorisasi atau pengelompokan aset yang dimiliki sekolah masing-masing. Aset ini dapat berupa tempat, benda, orang, komunitas, lembaga atau yang lainnya. Di dalam format tersebut, kategori pertama yang perlu dicantumkan adalah diri sendiri dan murid sebagai aset pertama dan utama. Bersama anggota kelompok yang lain, kami menginventarisir kekuatan apa saja yang dimiliki setiap kelompok aset (kategori) secara spesifik. Setelah pengelompokan (kategorisasi) tersebut dilakukan, kemudian menjabarkan peran dan manfaat penting apa yang dimiliki sebagai sumber kekuatan. Diskusi ini dilakukan melalui LMS dengan panduan dari fasilitator.

Setelah format dipresentasikan dan disepakati, setiap anggota kelompok kemudian melanjutkan mengisi format tersebut dengan menyebutkan secara spesifik nama orang, benda, tempat, komunitas, lembaga, dan lainnya yang dapat diandalkan sebagai aset di sekolah. Setiap CGP menuliskan juga secara spesifik kekuatan apa yang dimiliki oleh masing-masing aset tersebut. Yang pertama kali dirincikan adalah kekuatan yang dimiliki oleh CGP dan muridnya sebagai aset utama dalam mencapai visi yang telah dibuat. Kemudian setiap CGP mengunggahnya dalam bentuk JPG ke dalam LMS dan melihat pekerjaan rekan CGP lain. Setiap CGP wajib memberikan komentar atau saran secara terstruktur kepada minimal 3 pekerjaan CGP dari kelompok lain. CGP tidak dapat lanjut ke tahap berikutnya sebelum memberikan komentar tertulis di LMS melalui Gallery Walk.

Dari seluruh rangkaian kegiatan, mulai dari diri kemudian melakukan eksplorasi pemahaman mengenai visi guru Penggerak hingga melakukan kolaborasi dengan CGP yang lain membuat saya bisa memahami bahwa visi sangat penting dalam melakukan sebuah perubahan. Dengan adanya visi, maka kita bisa merancang langkah-langkah yang akan ditempuh untuk mencapai visi. Tidak hanya itu, dari hasil kolaborasi dengan CGP lain saya bisa mengetahui bahwa ada kekurangan yang saya atau sekolah miliki tapi malah justru menjadi kekuatan bagi CGP atau sekolah yang lain, begitupun sebaliknya.

Oleh karena itu, dengan berbekal kekuatan dan potensi positif yang dimiliki, saya akan menerapkan pendekatan Inkuiri Apresiatif (IA) melalui model BAGJA dalam mewujudkan murid yang memiliki profil pelajar Pancasila. Tentunya dengan melibatkan seluruh warga sekolah karena mustahil mewujudkan visi ini jika tidak didukung oleh warga sekolah.

 

 

 

 

Share:

Sunday, May 30, 2021

Aksi Nyata Nilai dan Peran Guru Penggerak

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Seorang guru penggerak hendaknya memiliki nilai-nilai guru penggerak dalam jiwanya. Nilai-nilai itu adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Kelima nilai tersebut penting dimiliki oleh setiap guru penggerak karena jika guru penggerak memiliki nilai mandiri, maka ia akan lebih leluasa berkembang karena tidak perlu lagi bergantung pada orang lain. Reflektif membantu dirinya memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki sehingga ia akan selalu tampil sebagai guru yang ideal. Dengan nilai kolaborasi, pekerjaan guru penggerak, menjadi lebih mudah dan ringan karena semuanya dilakukan secara kolaboratif dengan semua pihak. Inovatif mendorong terciptanya pembaruan sehingga guru akan senantiasa melahirkan ide dan gagasan yang baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Segala tindakan dan kebijakan yang berpihak pada murid tentunya akan membuat murid senang dan termotivasi belajar sehingga akan mendorong terwujudnya profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehingga melekat menjadi karakter dari setiap guru penggerak. Nilai guru penggerak sangat mempengaruhi guru penggerak dalam memainkan perannya. 

Adapun peran guru penggerak adalah sebagai berikut:

1. Menjadi pemimpin pembelajaran melalui praktik pembelajaran yang berpihak pada murid.

Pembelajaran secara jejaring, yakni menimba ilmu dari siapa saja dan dari mana saja yang dapat dihubungi serta diperoleh melalui internet.

Pembelajaran berbasis multimedia dengan media audio visual.

Pembelajaran yang interaktif dengan melibatkan guru, peserta didik, masyarakat, lingkungan alam, dan sumber/ media lainnya.

Pembelajaran dengan pola belajar kelompok (berbasis tim) dan mengembangkan pembelajaran dalam upaya pengembangan potensi khusus yang dimiliki setiap peserta didik.

2. Menggerakkan komunitas praktisi seperti MGMP untuk berkontribusi aktif dalam mewujudkan merdeka belajar. Melalui MGMP bisa terjalin kerjasama secara kolaboratif antar guru mata pelajaran, guru bisa meningkatkan kompetensi melalui pelatihan dan workshop di MGMP, serta saling berbagi praktik yang baik terkait pembelajaran di kelas. 



3. Guru penggerak menjadi coach bagi guru lain, misalnya dengan membimbing guru lain dalam pengolahan nilai melalui excel, pembuatan kelas online, pembuatan media pembelajaran berbasis multimedia, dan sebagainya.
 


4. Menjalin kerjasama dengan guru lain, kepala sekolah, orang tua siswa, dan masyarakat sekitar dalam mencapai profil pelajar Pancasila.


5. Membantu murid untuk mandiri dalam belajar, memunculkan motivasi untuk belajar, dan mendidik karakter murid di sekolah.
Nilai dan peran guru penggerak selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang menjiwai guru penggerak dalam memainkan perannya tentunya akan menghadirkan guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru yang memahami bahwa jika mereka menanam padi, tidak akan mungkin tumbuh jagung begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, mereka akan memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh perlakuan mereka terhadap murid. Segala tindakan dan kebijakan guru penggerak akan senantiasa menghamba pada anak. Mereka akan memperlakukan anak sesuai kodratnya, baik itu kodrat alam maupun zamannya dan tentu saja kodrat anak adalah bermain. Dengan demikian, seorang guru penggerak tentunya akan senantiasa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik lakunya, selaras budi dan pekertinya.
Untuk mencapai nilai-nilai guru penggerak, tentunya membutuhkan strategi tersendiri. Strategi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:
  • Senantiasa memotivasi diri untuk senantiasa melakukan perubahan dalam meningkatan kualitas pembelajaran.
  • Memaknai setiap pengalaman yang saya lalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, saya juga akan selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang saya miliki.
  • Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap diri saya.
  • Menjadikan nilai-nilai guru penggerak sebagai sebuah kebiasaan yang konsisten agar menjadi perilaku dan karakter yang melekat dalam diri.

Testimoni dari rekan guru:




Testimoni dari siswa:
















Share:

Catatan Akhir Pekan Guru Penggerak Part 5: Pengembangan Diri Guru Penggerak

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Pekan kelima diawali dengan kegiatan membuat gambaran diri di masa depan, setelah mengikuti rangkaian program Pendidikan Guru Penggerak. Gambaran diri itu dibuat dalam bentuk gambar ilustrasi tangan/ digital dengan mengikuti panduan berupa pertanyaan-pertanyaan terkait guru penggerak seperti apa yang diimpikan, nilai-nilai apa yang diharapkan dikuasai di masa depan, dan alasan mengapa nilai-nilai tersebut penting.

Kegiatan ini membuka pikiran saya untuk lebih mengetahui arah dan tujuan saya ke depan setelah mengikuti Pendidikan Guru Penggerak. Dengan demikian, saya bisa membuat perencanaan dan Langkah konkrit dalam mencapai gambaran yang diimpikan.

Kegiatan berikutnya adalah mengelaborasi pemahaman mengenai nilai dan peran guru penggerak Bersama instruktur. Namun sebelumnya, kita diminta untuk menuangkan berbagai pertanyaan terlebih dahulu mengenai materi nilai dan peran guru penggerak yang masih ingin digali lebih lanjut pada kegiatan ini. Awalnya pertanyaan-pertanyaan itu diminta dituliskan melalui LMS. Hanya saja topik pertanyaan yang diminta mengenai budaya positif di sekolah, sementara modul yang dipelajari mengenai nilai dan peran guru penggerak. Sehingga fasilitator membuat alternatif lain dengan menyiapkan padlet untuk pertanyaan mengenai nilai dan peran guru penggerak. Oleh karena itu, saya berinisiatif membuat kedua-duanya saja. Pertanyaan mengenai budaya positif di sekolah saya posting melalui LMS, dan pertanyaan mengenai nilai dan peran guru Penggerak saya posting melalui tautan padlet yang dibagikan fasilitator.

Adapun mengenai budaya positif di sekolah, saya mempertanyakan dua hal yaitu bagimana cara mengukur sejauh mana budaya positif di sekolah dianggap telah berpihak pada murid dan Langkah apa yang harus dilakukan agar budaya positif berpihak pada murid. Sedangkan pertanyaan mengenai nilai dan peran guru penggerak yaitu bagaimana cara agar kita bisa selalu memiliki inovasi seperti motto salah satu merk motor terkenal yakni “Inovasi Tiada Henti” dan cara mengukur bahwa segala kebijakan yang kita ambil telah berpihak pada murid.

Kegiatan ini membuka pikiran saya mengenai apa yang ingin saya ketahui lebih lanjut mengenai nilai dan peran guru penggerak. Sehingga saya menjadi lebih berminat dan termotivasi untuk mengikuti pertemuan bersama instruktur nantinya. Selain itu, dari pertanyaan-pertanyaan itu saya juga tertarik untuk menggali lebih jauh mengenai nilai dan peran guru penggerak dari sumber lain.

Selanjutnya kami mengikuti pertemuan dengan instruktur yang dilakukan secara virtual melalui Google Meet. Web meeting ini diikuti oleh para CGP dari 4 orang fasilitator. Dimana masing-masing fasilitator menangani 16 orang CGP, sehingga CGP yang mengikuti web meeting itu semuanya ada 64 orang. Kegiatan ini dilaksanakan selama 2 JP Bersama dengan instruktur Ibu Twi Endah Kurniyanti.

Dalam pemaparannya, intruktur memberikan penguatan bahwa seorang guru penggerak sebelum menggerakkan orang lain, ia harus bisa tergerak terlebih dahulu agar bisa bergerak dan menggerakkan orang lain. Dalam hal ini, seorang guru Penggerak hendaknya bisa menjadi teladan, mengelola kerja otak dan emosinya, melakukan pembiasaan secara konsisten dan sistematis terhadap hal-hal yang positif serta senantiasa mengambil makna dan pembelajaran positif dari setiap pengalaman atau praktik baik yang dilakukan. Ibu Twi membawakan materi dengan baik dengan penyampaian yang jelas dan mudah dipahami. Penyajian materi yang sesekali dikemas dalam bentuk permainan membuat kita senang dan tidak merasa bosan selama mengikuti kegiatan. Dari pemaparan tersebut, saya dapat memahami lebih jauh mengenai nilai dan peran Guru Penggerak serta keterkaitannya dengan filosofi pendidikan KHD.

Adapun nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru penggerak adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut penting dimiliki oleh setiap guru penggerak karena jika guru penggerak memiliki nilai mandiri, maka ia akan lebih leluasa berkembang karena tidak perlu lagi bergantung pada orang lain. Reflektif membantu dirinya memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki sehingga ia akan selalu tampil sebagai guru yang ideal. Dengan nilai kolaborasi, pekerjaan guru penggerak, menjadi lebih mudah dan ringan karena semuanya dilakukan secara kolaboratif dengan semua pihak. Inovatif mendorong terciptanya pembaruan sehingga guru akan senantiasa melahirkan ide dan gagasan yang baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Segala tindakan dan kebijakan yang berpihak pada murid tentunya akan membuat murid senang dan termotivasi belajar sehingga akan mendorong terwujudnya profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehingga melekat menjadi karakter dari setiap guru penggerak. Nilai guru penggerak sangat mempengaruhi guru penggerak dalam bersikap dan bertindak. Hal ini sangat dibutuhkan seorang guru penggerak dalam memainkan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, penggerak komunitas praktisi, coach bagi guru lain, pendorong kolaborasi, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Nilai dan peran guru penggerak selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang menjiwai guru penggerak dalam memainkan perannya tentunya akan menghadirkan guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru yang memahami bahwa jika mereka menanam padi, tidak akan mungkin tumbuh jagung begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, mereka akan memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh perlakuan mereka terhadap murid. Segala tindakan dan kebijakan guru penggerak akan senantiasa menghamba pada anak. Mereka akan memperlakukan anak sesuai kodratnya, baik itu kodrat alam maupun zamannya dan tentu saja kodrat anak adalah bermain. Dengan demikian, seorang guru penggerak tentunya akan senantiasa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik lakunya, selaras budi dan pekertinya.

Untuk mencapai nilai-nilai guru penggerak, tentunya membutuhkan strategi tersendiri. Strategi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

-     Senantiasa memotivasi diri untuk senantiasa melakukan perubahan dalam meningkatan kualitas pembelajaran.

-  Memaknai setiap pengalaman yang saya lalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, saya juga akan selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang saya miliki.

-   Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap diri saya.

-   Menjadikan nilai-nilai guru penggerak sebagai sebuah kebiasaan yang konsisten agar menjadi perilaku dan karakter yang melekat dalam diri.

Profil pelajar Pancasila sulit terwujud oleh seorang guru penggerak saja. Oleh karena itu, guru penggerak harus berkolaborasi dengan semua pihak agar tugas menjadi lebih mudah dan ringan. Pihak-pihak yang dapat membantu tugas guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila adalah sebagai berikut:

-   Guru lain atau teman sejawat sebagai mitra dalam melakukan gerakan perubahan yang menuntut guru lebih mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid sebagai upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila.

-    Kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan di sekolah yang berperan dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif bagi guru dan murid. Kebijakan kepala sekolah hendaknya senantiasa berpihak pada murid agar gerakan yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah bisa berjalan serasi dan selaras.

-  Orang tua siswa sebagai pendamping anak di rumah turut berpartisipasi dalam membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, baik dengan cara memberikan semangat maupun dengan cara meningkatkan kebutuhan sekolah. Orang tua hendaknya mampu menjadi teman yang bahagia untuk belajar.

-    Masyarakat dapat berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah baik moril maupun materil. Masyarakat memiliki peran penting dalam membantu anak belajar di rumah, terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler, pembahasan kebijakan sekolah, dan konsultasi terkait masalah pendidikan anak.

Sebagai bentuk aksi nyata dalam penguatan nilai dan peran guru penggerak dapat diakses melalui tautan berikut:

https://www.guruitung.com/2021/05/aksi-nyata-nilai-dan-peran-guru.html

Kegiatan di pekan kelima diakhiri dengan kegiatan Lokakarya 1 yang dilaksanakan di Hotel Aerotel Smile. Pada kegiatan ini, kami digabung dengan dua kelompok baru dengan orang-orang yang sebagian besar baru dikenal. Kegiatan yang dipandu oleh tiga orang pendamping ini diawali dengan perkenalan antara sesama CGP dan para pendamping. Semua CGP dan pendamping membuat lingkaran besar, kemudian setiap peserta maju satu langkah lalu menyebutkan nama, asal instansi, dan hal positif dalam dirinya. Selanjutnya setiap orang menuliskan kemampuan apa saja yang perlu dimiliki oleh seorang guru penggerak pada secarik kertas dan kemampuan yang dimiliki dalam menjalankan peran sebagai guru pada kertas lain kemudian menempelkannya di papan.

Setelah itu, peserta dibagi menjadi empat kelompok yang baru dan membahas empat kompetensi guru penggerak yang sudah dimiliki dan yang belum dimiliki serta upaya apa yang akan dilakukan untuk mencapainya. Keempat kompetensi itu adalah mengembangkan diri dan orang lain, memimpin pembelajaran, memimpin manajemen sekolah, dan memimpin pengembangan sekolah. Setiap peserta merefleksi posisi diri masing-masing terhadap kompetensi tersebut kemudian berbagi cerita dengan rekan kelompoknya. Selanjutnya setiap peserta membuat rencana pengembangan diri yang akan ditindaklanjuti pada lokakarya 5 dan 8 dilanjutkan dengan pengisian lembar evaluasi kegiatan sebagai upaya peningkatan kualitas lokakarya berikutnya.

Dari kegiatan Lokakarya 1 ini, banyak hal baru yang diketahui dari praktik baik teman-teman CGP maupun pendamping. Selain itu, saya juga bisa menggali lebih banyak hal-hal positif yang sudah dimiliki dan hal-hal apa yang perlu dikembangkan terkait kompetensi guru penggerak. Sehingga arah dan tujuan yang ingin dicapai pada program Guru Penggerak ini semakin nampak jelas di depan mata.

 

 


Share:

Friday, May 28, 2021

Nilai dan Peran Guru Penggerak dalam Kaitannya dengan Filosofi Ki Hajar Dewantara

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Nilai-nilai yang harus dimiliki oleh seorang guru penggerak adalah mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid. Nilai-nilai tersebut penting dimiliki oleh setiap guru penggerak karena jika guru penggerak memiliki nilai mandiri, maka ia akan lebih leluasa berkembang karena tidak perlu lagi bergantung pada orang lain. Reflektif membantu dirinya memperbaiki kekurangan dan meningkatkan kelebihan yang dimiliki sehingga ia akan selalu tampil sebagai guru yang ideal. Dengan nilai kolaborasi, pekerjaan guru penggerak, menjadi lebih mudah dan ringan karena semuanya dilakukan secara kolaboratif dengan semua pihak. Inovatif mendorong terciptanya pembaruan sehingga guru akan senantiasa melahirkan ide dan gagasan yang baru dalam mewujudkan pembelajaran yang berpihak pada murid. Segala tindakan dan kebijakan yang berpihak pada murid tentunya akan membuat murid senang dan termotivasi belajar sehingga akan mendorong terwujudnya profil pelajar Pancasila. Nilai-nilai tersebut diharapkan menjadi kebiasaan dalam berperilaku sehingga melekat menjadi karakter dari setiap guru penggerak. Nilai guru penggerak sangat mempengaruhi guru penggerak dalam bersikap dan bertindak. Hal ini sangat dibutuhkan seorang guru penggerak dalam memainkan perannya sebagai pemimpin pembelajaran, penggerak komunitas praktisi, coach bagi guru lain, pendorong kolaborasi, dan mewujudkan kepemimpinan murid.

Nilai dan peran guru penggerak selaras dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Nilai mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid yang menjiwai guru penggerak dalam memainkan perannya tentunya akan menghadirkan guru yang sesuai dengan filosofi Ki Hajar Dewantara. Guru yang memahami bahwa jika mereka menanam padi, tidak akan mungkin tumbuh jagung begitupun sebaliknya. Dengan kata lain, mereka akan memahami bahwa pendidikan sangat dipengaruhi oleh perlakuan mereka terhadap murid. Segala tindakan dan kebijakan guru penggerak akan senantiasa menghamba pada anak. Mereka akan memperlakukan anak sesuai kodratnya, baik itu kodrat alam maupun zamannya dan tentu saja kodrat anak adalah bermain. Dengan demikian, seorang guru penggerak tentunya akan senantiasa mendidik anak agar menjadi manusia yang baik lakunya, selaras budi dan pekertinya.

Untuk mencapai nilai-nilai guru penggerak, tentunya membutuhkan strategi tersendiri. Strategi yang akan dilakukan adalah sebagai berikut:

  • Senantiasa memotivasi diri untuk senantiasa melakukan perubahan dalam meningkatan kualitas pembelajaran.
  • Memaknai setiap pengalaman yang saya lalui dengan melakukan evaluasi terkait kekurangan dan kelebihan ataupun kelemahan dan kekuatan yang dimiliki. Selain itu, saya juga akan selalu membuka diri terhadap masukan dari orang lain dan melakukan perbaikan terhadap kekurangan yang saya miliki.
  • Menjalin kerjasama dengan semua pihak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila, membangun komunikasi dengan mereka dan menanamkan rasa kepercayaan semua pihak terhadap diri saya.
  • Menjadikan nilai-nilai guru penggerak sebagai sebuah kebiasaan yang konsisten agar menjadi perilaku dan karakter yang melekat dalam diri.

Profil pelajar Pancasila sulit terwujud oleh seorang guru penggerak saja. Oleh karena itu, guru penggerak harus berkolaborasi dengan semua pihak agar tugas menjadi lebih mudah dan ringan. Pihak-pihak yang dapat membantu tugas guru penggerak dalam mewujudkan profil pelajar Pancasila adalah sebagai berikut:

  • Guru lain atau teman sejawat sebagai mitra dalam melakukan gerakan perubahan yang menuntut guru lebih mandiri, reflektif, kolaboratif, inovatif, dan berpihak pada murid sebagai upaya mewujudkan profil pelajar Pancasila.  
  • Kepala sekolah sebagai pemangku kebijakan di sekolah yang berperan dalam menciptakan situasi belajar mengajar yang kondusif bagi guru dan murid. Kebijakan kepala sekolah hendaknya senantiasa berpihak pada murid agar gerakan yang dilakukan oleh guru dan kepala sekolah bisa berjalan serasi dan selaras.
  • Orang tua siswa sebagai pendamping anak di rumah turut berpartisipasi dalam membimbing dan memberikan motivasi kepada anak, baik dengan cara memberikan semangat maupun dengan cara meningkatkan kebutuhan sekolah. Orang tua hendaknya mampu menjadi teman yang bahagia untuk belajar.
  • Masyarakat dapat berkontribusi dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah baik moril maupun materil. Masyarakat memiliki peran penting dalam membantu anak belajar di rumah, terlibat dalam kegiatan ekstrakurikuler, pembahasan kebijakan sekolah, dan konsultasi terkait masalah pendidikan anak. 

Share:

Friday, May 21, 2021

Video Pembelajaran Statistika Bagian 3 || Ukuran Penyebaran Data

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Video pembelajaran statistika bagian 3 ini membahas tentang cara menghitung ukuran penyebaran data yang terdiri dari jangkauan (range), kuartil, dan jangkauan interkuartil.

Link video statistika bagian 1: https://youtu.be/MGj2RyRyioY
Link video statistika bagian 2: https://youtu.be/Y96gKn7cr5k
Link video statistika bagian 3: https://youtu.be/f9TWdAIdmS0

#Range#Kuartil#Jangkauan


Share:

Thursday, May 20, 2021

Video Pembelajaran Statistika Bagian 2 || Ukuran Pemusatan Data

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Video pembelajaran statistika bagian 2 ini membahas tentang cara menghitung ukuran pemusatan data yang terdiri dari rata-rata (mean), nilai tengah (median), dan nilai yang paling sering muncul (modus).

Link video statistika bagian 1: https://youtu.be/MGj2RyRyioY
Link video statistika bagian 2: https://youtu.be/Y96gKn7cr5k
Link video statistika bagian 3: https://youtu.be/f9TWdAIdmS0

#Mean#Median#Modus


Share:

Video Pembelajaran Statistika Bagian 1 || Melawan Covid dengan Statistik

Oleh: Jamaluddin Tahuddin

Video pembelajaran statistika bagian 1 ini membahas tentang data perkembangan kasus Covid di Indonesia, pengertian statistika, datum dan data, populasi dan sampel, jenis data, metode pengumpulan data, serta cara mengurutkan data tunggal pada pengolahan data.

Link video statistika bagian 1: https://youtu.be/MGj2RyRyioY
Link video statistika bagian 2: https://youtu.be/Y96gKn7cr5k
Link video statistika bagian 3: https://youtu.be/f9TWdAIdmS0

#Covid#Statistik





Share:

Komentar Terbaru

Translate

Followers

Guru Itung. Powered by Blogger.

Contact Form

Name

Email *

Message *